Kumpulan artikel dari pelbagai media cetak ihwal konsep, gagasan, kajian, perkembangan, pandangan, serta perbincangan bahasa dan sastra Sunda yang ditulis oleh para ahli, pengkaji, pencari, dan pemerhati pada bidangnya, yang kami himpun semata-mata untuk kepentingan restorasi pengetahuan dan reservasi peradaban.
A. Chaedar Alwasilah *)
Pikiran Rakyat, Kamis 16 Februari 2006.
A. Chaedar Alwasilah, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua Panitia Pelaksana Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) ke-1 di Bandung, 2001.
Artikel lainnya oleh penulis: Pemertahanan Bahasa Ibu; Kasus Bahasa Sunda | Meluruskan Politik Bahasa Ibu
PENUTUR asli bahasa Sunda (BS) di Jawa Barat kini diperkirakan lebih dari 20 juta orang, kurang lebih sebanding dengan populasi negara Malaysia atau Australia.
Jumlah itu cukup meyakinkan bahwa BS memiliki vitalitas tinggi, bandel, dan "sulit mati". Namun, kekhawatiran akan pudarnya BS terus terdengar dan semakin menarik untuk diwacanakan. Ini indikasi adanya kesadaran politik bahasa daerah (BD) di Jawa Barat.
Kekhawatiran para pengamat bahasa, budayawan, dan sejumlah tokoh Sunda memang berbasis bukti dan berdasar pengalaman empirik seperti kecilnya tiras media massa dan buku berbahasa Sunda, lemahnya motivasi siswa untuk menekuni keahlian bahasa, sastra, dan budaya Sunda, dan yang paling kentara adalah rendahnya pemakaian bahasa itu sebagai bahasa komunikasi sehari-hari di kalangan generasi muda.
Ihwal punahnya bahasa, para ahli membuat klasifikasi sebagai berikut: bahasa mati seperti bahasa Latin dan Sanskerta, bahasa terancam punah (endangered language) seperti beberapa bahasa di Irian yang tidak sempat dibahasa-tuliskan, dan bahasa hidup, yakni yang masih terpelihara. BD yang terancam punah adalah BD yang jumlah penuturnya di bawah 100.000 orang, dan diperkirakan musnah dalam dua generasi.
Bahasa yang masih hidup ini sebenarnya masih dapat diklasifikasi lagi berdasarkan kriteria lain seperti jumlah penutur atau kehadiran publikasi modern dalam bahasa itu. Dari sekira 600 BD di Indonesia, ada delapan bahasa dengan jumlah penutur terbesar, yaitu bahasa Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, Batak, Banjar, dan Bali. Semakin ke timur di Indonesia ini, semakin banyak bahasa yang jumlah penuturnya sedikit dan tingkat kemakmuran hidupnya rendah.
Ditinjau dari segi publikasi sekarang ini, hanya ada tiga BD yang secara konsisten melahirkan karya tulis modern, yaitu Sunda, Jawa, dan Bali. Seperti dilaporkan Pikiran Rakyat (4 Februari 2006), Yayasan Kebudayaan Rancage mencatat pada 2005 terbit sebanyak 19 judul dalam BS, 6 judul dalam bahasa Jawa, dan 5 judul dalam bahasa Bali. Sementara itu dalam BD lainnya (Madura, Minangkabau, Bugis, Batak, dan Banjar)-walaupun jumlah penuturnya jauh di atas bahasa Bali-tidak terdengar berita adanya publikasi modern seperti dalam tiga BD di atas.
BERBEDA dengan BD lainnya, secara politik, BS dimanjakan dengan terbitnya Perda No. 5 Tahun 2003 tentang pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah. Namun, yang jauh lebih sulit adalah sosialisasi dan implementasi perda itu yang seyogianya melibatkan berbagai pihak terkait.
Dilihat dari sudut jumlah penutur dan publikasi media massa dan buku, tampak bahwa BS ada dalam kategori aman dan mantap. Namun, perlu diingat bahwa bahasa adalah sekadar alat budaya. Yang jauh lebih mendasar adalah kualitas pengguna alat itu. Sekalipun jumlahnya besar, penutur sejati BS tampaknya kurang berkibar secara sosial politik dan ini berdampak negatif terhadap daya saing BS. Sebagai bandingan, bahasa Inggris menjadi bahasa yang sangat bergengsi bukan karena kecanggihan linguistiknya, tetapi karena kecanggihan dan prestasi para penutur aslinya.
Pernah diwacanakan dan disesalkan bahwa mayoritas anggota DPRD Jawa Barat bukan dari etnis Sunda. Hanya 30% saja yang pituin Sunda. Yang 70% secara psikolinguistik tidak akan memiliki ikatan batiniah dan loyalitas lingual terhadap BS. Kita mafhum bila mereka berbisik: "Emangnya gua pikirin". Bisa jadi pada posisi-posisi strategis lain pun--khususnya di Jawa Barat--orang Sunda memang jati kasilih ku junti. Pada tataran nasional peran politik etnis Sunda tampak lebih minim lagi. Lihat saja masa pemilihan Presiden lalu. Hanya satu orang Sunda yang berani tandang ke gelanggang mencalonkan diri jadi wapres!
Perguruan Tinggi di Jawa Barat sudah saatnya mengkaji dengan serius dan memberi jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Isu pemertahanan bahasa (language maintenance) tidak cukup dijawab lewat kajian bahasa, sastra, pernaskahan, sejarah dan pendidikan bahasa, tapi juga memerlukan kajian interdisipliner antara BS dengan kinerja politik, ekonomi, dan sosial para penuturnya.
BAHASA adalah ideologi. Mempertahankan bahasa adalah berpolitik bahasa secara makro, bukan sekadar mengutak-atik bunyi ujaran, pola kalimat, sejarah bahasa, dan karya sastra. Ada sejumlah ayat penangkal kematian bahasa yang sering diamalkan para ahli politik bahasa sebagai berikut.
Pertama, BS tidak akan punah bila prestasi dan prestise para penuturnya berkibar minimal di Tatar Sunda, apa lagi pada panggung nasional dan internasional. Segala prestasi orang Sunda mesti diketahui publik untuk menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri sebagai kelompok etnis dan sebagai penutur bahasanya. Terbitnya Ensiklopedi Sunda (2000), Apa dan Siapa Orang Sunda (2003), Sundanese English Dictionary (2003), serta penerjemahan puisi dan fiksi Sunda ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing adalah langkah-langkah monumental untuk menggelar prestasi kebudayaan lokal di panggung nasional dan internasional.
Kedua, BS tidak akan punah bila kemakmuran para penutur asli BS secara kolektif lebih unggul dibandingkan kemakmuran kelompok etnis lainnya minimal di Tatar Sunda. Inilah hukum ekonomi. Mereka yang menguasai sumber-sumber ekonomi akan memiliki kemudahan untuk menguasai kunci-kunci sosial budaya. Ekonomi adalah kekuatan terhebat yang dapat mempengaruhi nasib bahasa. Perlu biaya besar untuk meningkatkan citra sebuah bahasa. Pemerintah Inggris membiayai The British Council, Jerman membiayai Goethe-Institut, dan Jepang membiayai The Japan Foundation yang tersebar di berbagai pelosok jagat ini. Kapan Pemda Jabar akan memiliki lembaga seperti ini?
Ketiga, BS tidak akan punah bila peran politik para penuturnya lebih unggul dibandingkan dengan peran politik kelompok etnis lainnya minimal di Tatar Sunda. Pemerintahan sentralistik sejak merdeka sampai Orde Baru telah mengecilkan peran pemerintah lokal, termasuk peran bahasa dan budayanya. BD sebagai bahasa minoritas tidak dapat ditegakkan dan dikembangkan sebagai sebuah kompetensi kapital baik nasional apalagi global.
Imperialisme pada hakikatnya upaya pembodohan masyarakat terjajah. Di bawah cengkeraman kolonial, para pejuang di daerah-daerah di seluruh Indonesia berjuang melawan penjajahan sampai akhirnya mencapai kemerdekaan sebagai cita-cita luhur. Begitu Indonesia merdeka, cita-cita luhur itu justru mengerdilkan idealisme dan kesatuan sosial budaya lokal. Bahasa nasional pun secara perlahan meminggirkan BD. Inilah contoh imperialisme linguistik.
Keempat, BS tidak akan punah bila para penuturnya memiliki peran penting dalam sistem pendidikan minimal di Tatar Sunda. Dapatlah dipastikan bahwa mayoritas pendidik dan tenaga kependidikan di Tatar Sunda ini adalah orang Sunda. Namun, mayoritas ragu apakah BS berpotensi sebagai medium pendidikan formal. Sikap ”kalah sebelum bertanding” ini sangat tertanam kuat akibat kebijakan sentralistik sejak Indonesia merdeka.
Kelima, BS tidak akan punah bila para penuturnya aktif menggunakannya sebagai media tulis. Globalisasi kini menyapu kearifan-kearifan lokal. Semuanya akan musnah kecuali yang terdokumentasikan secara tertulis. Dibaca, dikritik, dan ditulis ulang. Inilah mekanisme reproduksi dan revitalisasi kebudayaan. Menuliskannya dalam BS bukan hanya melestarikan BS tetapi juga menghidupkan kembali kearifan-kearifan itu. Sebagai contoh, penerbitan kembali Kamus Basa Sunda (2005) karya R. Satjadibrata yang pertama terbit tahun 1948 merupakan kendaraan wisata ke masa lalu sebagai bagian dari penghayatan atas kearifan lokal itu.
Keenam, BS tidak akan punah bila para penuturnya aktif menggunakan teknologi elektronik. Artinya, untuk mengimbangi dominasi bahasa Indonesia yang perkasa itu, para penutur BS mesti memanfaatkan teknologi mutakhir. Kehadiran TV swasta di Bandung yang banyak menyiarkan acara dalam BS akan memberikan kontribusi besar terhadap revitalisasi BS. Namun, sejauh tertentu media elektronik ini merupakan ancaman bagi media cetak. Karena itu, desain dan isi majalah dalam BS seperti Mangle, Cupumanik dan tabloid Galura dan Kalawarta Kujang dan sebagainya seyogianya terus-menerus diperbarui agar memikat pembaca, khususnya generasi muda.
Ketujuh, BS tidak akan punah bila tujuan pengajarannya di sekolah-sekolah diorientasikan kepada kefasihan, yakni pembiasaan komunikasi bukan ketepatan pemakaian undak-usuk bahasa. Generasi muda kini malas menggunakan BS, antara lain karena dua hal: secara kebahasaan mereka merasa takut melanggar undak-usuk, dan secara sosial undak-usuk jelas-jelas melanggengkan feodalisme. Bahasa Indonesia sangat demokratis, sehingga mereka menyukainya. Ringkas kata, sederhanakan undak-usuk, atau BS dibenci generasi muda dan generasi mendatang!
Mereka yang hanya mengkaji bahasa tanpa melihat variabel-variabel besar seperti disebut dalam tujuh ayat di atas adalah bagaikan dokter yang memberi resep tapi mengabaikan perilaku si pasen dalam kegiatan sosialnya. Kematian bahasa mesti ditangkal bukan dengan sekadar resep kebahasaan seperti terkait dengan undak-usuk dan pedagogi bahasa dan sastra. Yang jauh lebih besar tantangannya adalah justru variabel-variabel nonkebahasaan. Bahasa adalah medium dan sekaligus indeks kebudayaan. Penyelamatan BD adalah upaya terampuh untuk menelusuri dan merevitalisasi kebudayaan itu.***